Jumat, 30 Maret 2012

Makalah : Suku Baduy


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang masalah
         Kepercayaan merupakan hal utama dalam sebuah roda kehidupan, dimana kepercayaan sebagai dasar akan petunjuk yang harus dilakukan ketika manusia hidup didunia yang fana ini.
         Kehidupan seseorang tidak akan merasa tentram ketika didalam dirinya tidak ada suatu kepercayaan apapun, meskipun dia seorang yang tidak beragama tetapi pada dasarnya dia punya keyakinan tentang apa yang dia percayai pada saat itu
         Suku baduy merupakan suku asli yang yang mendiami tanah banten, kehidupan suku baduy masih mempertahankan adat istiadat dan budaya leluhur mereka hingga saat ini. mereka percaya terhadap kepercayaan / keyakinan yang terus diturunkan turun temurun hingga sekarang dan dijaga sedemikian ketatnya supaya kepercayaan mereka tidak tersisihkan oleh agama-agama yang begitu banyak mempengaruhi kehidupan dunia modern, dengan kedisiplinan dan keteguhan mereka semuanya dapat terjaga dengan baik. 
        
B.     Identifikasi dan Perumusan Masalah
         Dalam laporan ini rumusan masalah yang akan di ambil adalah :
1.       Keyakinan seperti apa yang di yakini oleh masyarakat Suku Baduy?
2.       Bagaimana pelaksanaan keyakinan mereka dalam kehidupan sehari-hari?
C.    Tujuan Penelitian
         Tujuan Dalam laporan ini Adalah :
1.      Untuk mengetahui bagaimana sitem kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat suku baduy.
2.      Untuk bagaimana pelaksanaan keyakinan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat suku baduy.




D.    Pentingnya penelitian
         Petingnya penelitian ini sebagai tahap pemahaman terhadap salah satu poin penting dalam suatu kebudayaan yaitu kepercayaan suatu masyarakat yang kali ini adalah mengenai seluk beluk kepecayaan/ keyakinan pada masyarakat suku baduy.

E.     Sumber Data
Pengumpulan sumber-sumber data yang kami gunakan dalam penelitian ini yaitu dengan cara mewawancarai sebagian masyarakat baduy yang memang bisa menjadi sumber mediator kami dalam mengumpulkan informasi-informasi tentang keadaan masyarakat suku baduy itu sendiri. Meskipun dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan begitu sulit untuk kami dapatkan karena berbenturan dengan peraturan yang memang dibatasi oleh pantrangan ( Larangan-larangan ).



















BAB II
KONDISI GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFIS
A.    Kondisi Geografis
         Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C.[1]
B.     Kondisi Demografis
         Masyarakat baduy merupakan masyarakat yang menjungjung tinggi nilai demokrasi diantara kesukuannya. Populasi masyrakat suku baduy saat ini mencapai antara ± 5000 – 8000 orang yang tersebar dalam 54 kampung yang mengelilingi tiga kampung utama yaitu kampung cikeusik, Cikertawana dan cibeo.
         Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu Pu'un.
            Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah Pu'un yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.
           
BAB III
HASIL TEMUAN
dalam pengumpulan bahan untuk laporan ini begitu sulit karena banyaknya pertanyaan yang tidak dijawab, mungkin karena larangan / pantrangan yang memang tidak boleh disebarkan kepada pihak umum.
Selain dari masalah tersebut, karena banyaknya saingan-saingan dalam berlomba-lomba dalam mengumpulkan informasi-informasi untuk bahan laporannya masing – masing dan juga waktunya yang memang terbatas sehingga menjadi kendala untuk kami, tetapi meskipun begitu, alhamdulillah penulis mendapatkan hasil yang mungkin hanya sedikit, tapi itu tidak menjadi persoalan karena meskipun hanya sedikit itu bisa berguna bagi keperluan tugas laporan ini.
Dalam mencari informasi, penulis berkomunikasi dengan salah satu masyarakat suku baduy yang bernama sarta . Dalam rincian obrolan tersebut kurang lebih seperti dibawah ini:
Pertanyaan :
ari agama nu di anut ku masyarakat suku baduy teh naon?
( Apa agama yang dianut oleh masyarakat suku baduy? )
Jawaban :
Agama nu di anut ku urang baduy mah sunda wiwitan.
( agama yang dianut oleh masyarakat suku baduy adalah sunda wiwitan)
Pertanyaan :
Ari ibadah na sunda wiwitan teh kumaha?
( bagaimana cara peribadatan sunda wiwtan?)
Jawaban :
Ari ibadahna mah, sapopoe ge ibadah
( kalo ibadah nya itu tiap hari.)
Pertanyaan :
Ari maksudna kmha?
(Maksudnya itu bagaimana?)

Jawaban :
Jadi, ibadah na sunda wiwitan mah naon anu dipigawe ungal waktu, eta teh ibadah. Sabab, naon wae nu lakukeun geus aya dina adat jadi, urang mah kumaha adat nu geus
ngatur.
( jadi, ibadahnya sunda wiwitan itu diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari, sebab apapun yang dilakukan bagaimana hokum adat)

Pertanyaan :
Ari tempat ibaahna dimana?
( kalo tempat ibadahnya dimana?)

Jawaban :
Di urang mah euweuh tempat ibadah.
( di kita itu gak ada tempat buat beribadah )

Pertanyaan:
Terus, ari arca domas eta naon?
( terus arca domas itu apa?)

Jawaban :
Ari eta mah tempat na puun jeung jelema anu kapilih wungkul keur ibadah
( itu adalah tempatnya puun dan orang terpilih untuk melakukan ibadah )

Pertanyaan :
Jadi, ngan puun jeung jalma nu dipilih wungkul nu ibadah di tempat eta teh?
( jadi, hanya puun dan orang terpilih saja yang bias beribadah itu?)

Jawaban :
Heeh
( iya )

Pertanyaan :
Naha ngan jalma tertentu wungkul nu kudu ibadah teh?
( kenapa hanya orang tertentu saja yang boleh beribadah)

Jawaban:
Eta mah geus aya dina aturan adat na kudu kitu
( itu sudah ada dalam aturan adat diharuskan seperti itu )






















BAB IV
ANALISA HASIL TEMUAN

            Dari percakapan diatas dan beberapa sumber lain bahwa Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang. Selain itu mereka menjual hasil kerajinan seperti Koja dan Jarog(tas yang terbuat dari kulit kayu), tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung, golok, parang dan berburu.
            Dalam pemerintahan secara adatnya Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun. Puun ini bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun, yang tidak boleh meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat dipimpin oleh Puun Tri Tunggal, yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun Janteu di Kampung Cibeo dan Puun Kiteu di Cikartawana.
            Sedangkan wakilnya pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu yang berfungsi sebagai juru bicara dengan pemerintahan desa, pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Di Baduy Luar sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah yang dibantu Jaro Tanggungan, Tanggungan dan Baris Kokolot.
            Masyrakat baduy, terutama baduy dalam mereka menganut ajaran sunda wiwitan yang memang itu adalah ajaran nenek moyangnya yang diturunkan tanpa ada penambahan dan pengurangan dalam ajarannya, dan itu terkiaskan dalam sebuah kalimat Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambun.artinya panjang jangan dipotong, pendek jangan disambung.
            Dalam tempat ibadah atau objek sakralnya yaitu di arca domas yang tempatnya dirahasiakan, hanya puun dan orang-orang terpilih saja yang dapat mengunjungi dan melakukan pemujaan ditempat tersebut, pemujaan tersebut dilakukan dalam waktu sekali dalam setahun pada bulan kelima.
            Di sekitar Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen.
           

















BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
         Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes.
          Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.
           
B.     Saran-saran
         Alhamdulillah dalam praktek lapangan ini banyak himah yang dapat penulis ambil sebagai bahan untuk pengetahuan. Penulis yakin dalam pembelajaran dan pembuatan laporan ini masih banyak kekurangannya. Sebagai bahan untuk kemajuan penulis dalam penelitian, penulis mohon untuk kritik dan sarannya. Karena kesempurnaan hanya milik Allah Yang Maha Esa.












DAFTAR PUSTAKA

Yani.Ahmad, dkk.2008. Etnografi suku Baduy: panduan pramuwisata Indonesia. (Himpunan Pramuwisata IndonesiaDewan Pimpinan Daerah. Provinsi Banten)
Wawancara.
Marcus.A.S. 1986. Kehidupan suku baduy.Books.google.co.id


































LAMPIRAN - LAMPIRAN
















 


Pekerjaan masyarakat baduy yaitu salah satunya bertenun
 
 
 







Hasil kerajinan
 
 






 
 
Perkampungan baduy luar
 
 



Patung Baduy


[1] . ahmad yani, dkk. Etnografi suku Baduy: panduan pramuwisata Indonesia. Himpunan Pramuwisata Indonesia, Dewan Pimpinan Daerah, Provinsi Banten, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar